a compilation of thoughts from an ordinary girl

, ,

Ed Sheeran Divide Tour 2019 in Jakarta


Source: teddysphotos
Jum'at, 3 Mei 2019. Salah satu hari bersejarah dalam ibadah per-fangirl-an saya sejak tahun 2009. I kid you not. Saya di tahun 2011 tidak akan menyangka bahwa lagu-lagu romantis bikin baper dari Ed Sheeran yang saya dengarkan dan nyanyikan di kamar, bisa saya nyanyikan (dengan suara saya yang cempreng) di konsernya Ed! LIVE! Bersama puluhan ribu orang lainnya di Stadion GBK. It felt like a dream but it was freaking real. 

Pengalaman konser pertama ini boleh dibilang saya beruntung banget. Kenapa? Karena opening act-nya adalah band dari Jepang kesukaan saya, One Ok Rock! Sumpah, ya. Kayak out of blue gitu, bisa-bisanya Taka, Toru, Ryota, dan Tomoya berada dalam satu lingkaran pertemanan Ed. Kek????? Ya, mungkin karena album Eyes of the Storm lebih mellow kali ya, jadi nggak beda-beda jauh sama lagu-lagu garapan Ed.

Source: oneokrockofficial
Sayangnya, kegembiraan membuncah yang saya rasakan sepertinya tidak dirasakan oleh sebagian besar penonton di konser Divide Tour ini. Banyak yang nggak tahu musik One Ok Rock soalnya wkwkw. Sudahlah itu kayaknya cuman saya sendiri yang teriak "Takaaaaa!! Toruuu!!!!! Ryotaaaa!!! Tomoyaaaaa!!! One Ok Rock!!!!! I love you!!!!!" di bagian tribun tempat saya duduk. Pas mereka main lagu Deeper Deeper, saya doang yang heboh dengan tepuk tangan pas bagian intro dan sok-sokan head banging ckckck. Awkward banget. Tapi saya juga sebenernya sudah bodo amat dan tidak tahu malu ahaha. Untungnya aja pas bagian akhir performance-nya One Ok Rock, ada mbak-mbak yang bantuin saya teriak nama personel band ini. Saya beneran tersentuh :') whoever you are, wherever you are, I hope you well, Mbak. Asli.

Okay, inilah saat-saat yang dinantikan oleh seluruh penonton di GBK, the main act, the one who only sings with his guitar, the main reason why duit saya seret setelah membeli tiketnya di bulan Desember 2018, bulan ulang tahun saya, ED SHEERAN!!!!!!! 

Source: teddysphotos
  • Castle on the Hill
Pas Ed keluar otomatis langsung pada teriak ini satu stadion. Akhirnya atmosfir nonton konser yang saya idam-idamkan terjadi. Saat suara merdu Ed terdengar, I was like "damn his voice sounded exactly the same like what I heard from the recording." Baru lagu pertama udah mo nangis aja rasanya. I COULDN'T BELIEVE I SANG ALONG WITH ED SHEERAN. AT THE SAME PLACE. Saya pengen berdiri teriak sekencang-kencangnya tapi penonton yang di tribun pada nggak berdiri hiks.
  • Eraser
Saya sebenarnya sudah berusaha ngafalin lirik rap lagu ini, tapi ya tetep aja susah. Alhasil, cuman ngomong gibberish pas bagian rap. Kalau Ed sih, nggak perlu dipertanyakan lagi rap-nya, udah lah ini dua jempol dari saya. Tapi, pas chorus sudah dipastikan saya menaikkan volume suara karena I'LL FIND COMFORT IN MY PAIN. ERASER.
  • The A Team
Ed memperkenalkan lagu ini dengan curhatan kalau dia sebenarnya tumbuh di kota kecil di Inggris. Dia nggak nyangka juga bisa perform lagu-lagunya di negara yang jaraknya beribu-ribu kilometer jauhnya. Saya pas dengerin ini dalam hati udah mau mewek soalnya tahu kalo lagu yang dinyanyiin pasti dari album pertamanya, +. Ketika petikan melodi The A Team terdengar, langsung lirik "white lips, pale face, breathing in snowflakes" saya lantunkan. Seneng banget bisa menikmati performance live lagu ini. The A Team was one of the first few tracks that I heard from Ed. When he sang this song live, I was still in wow-this-is-really-happening moment. Selain itu, Ed juga nyuruh penonton buat ngidupin lampu hape. Bagus banget pemandangannya kayak ngelihat ribuan kunang-kunang di malam hari.

Source: teddysphotos
  • Don't / New Man
Buat yang pernah dipermainin perasaan cintanya, Don't is your f*ck you anthem. Ya kalau saya sih semangat-semangat aja teriak "dont f*ck with my love, that heart is so cold" walopun belum pernah jadi korban. I would never miss a chance to cuss /shrugs. Sudah menjadi rahasia umum buat temen-temen dekat saya hehe. Oh iya, sebelum transisi ke lagu New Man, Ed sempet nyuruh penonton buat bilang "yeah" dan "ala la la la" dengan bertepuk tangan di atas.
  • Dive
Pas intro lagu ini sebenernya Ed blangsak sih. Pertamanya ngecek ini penonton pada masih semangat nggak dengan nyuruh buat teriak at the top of our lungs trus dia bilang intinya gini "my job is singing in tune, your job is singing ouf of tune and loud"

WAH, MAKASIH LHO BANG ATAS SINDIRANNYA.

Gatau ya ini yang nonton pada nyadar semuanya apa nggak kalo disindir. Pokoknya saya udah "asem Ed, asem, sialan" sambil nahan ketawa di bangku tribun. Aside from that, beneran pada nyanyi sekenceng-kencengnya dong wkwkk. Tapi saya benar-benar merinding. Bayangin aja satu stadion dengan kapasitas kurang lebih 50-60 ribu orang teriak "SO DON'T CALL ME BABYYYYYYYY, UNLESS YOU MEAN IT" Butuh dipukpuk kayaknya (me included, cuman saya juga bingung baperin siapa).
  • Bloodstream
Saat lagu ini dinyanyiin Ed, saya diem. Alasannya.....saya beneran nggak hafal lirik lagu ini. Saya cuman ngedengerin trus nyautin kata-kata yang saya tahu. Yang saya inget sih, background layar di stage pokoknya warnanya merah-merah gitu nyimbolin aliran darah, sesuai dengan judul lagunya.

Source: teddysphotos
  • Love Yourself / I Don't Care
Tentu saja volume penonton yang menyanyikan lagu ini tidak kalah kenceng. Lancar banget lagi nyanyiin liriknya. Saya jadi curiga ini kayaknya banyak Beliebers yang juga nonton konsernya Ed. Anyhow, tetep seneng karena crowd-nya beneran responsif. Serunya lagi, si Ed ternyata nyanyiin sebagian lirik lagu I Don't Care di sini. Saya pun pas denger waktu itu langsung "hah? ini lirik lagu baru? eehhhh????"
  • Tenerife Sea
Setelah tadi disuruh teriak, di lagu ini para penonton disuruh diem. Pokoknya Ed pengin para penonton jadi "the quietest crowd in the world". Ada yang suaranya kedengeran pokoknya langsung di "ssshhhhshs". Nggak cuman sama penonton di samping bangku, tapi si Ed juga kekeuh buat "ssshhhhh" hahaha. Sebuah usaha yang patut diacungin jempol karena warga +62 kan susah buat disuruh diem. Syahdu banget suasananya pas Tenerife Sea dan jadi momen merekam yang pas buat instastory, WA story, maupun video koleksi pribadi. Suaranya Ed pas bagian adlib merdu banget!!!! MasyaAllah, saya seperti dinyanyiin malaikat T_T
  • Kiss Me / Give Me Love
OKAY, THIS WAS MY MOMENT. I HAD TO SCREAM WHEN HE SUDDENLY SANG KISS ME. This song has a special place in my heart, not only because it came from album +, tapi salah satu barisan liriknya menurut saya mengandung kata-kata paling romantis, paling cantik, paling bikin baper, di antara semua lagu cinta yang pernah saya dengar.

I'M FALLING FOR YOUR EYES, BUT THEY DON'T KNOW ME YET.

Ambyar sudah keadaan hati saya. Sebenernya agak merasa bersalah karena saya bisa saja merusak suasana khidmat orang-orang yang duduk di dekat saya. Soalnya saya beneran teriak dengan suara cempreng dan volume kenceng. No joke. Ada bukti rekaman videonya oleh teman nonton saya. Maaf ya, kak Agnes dan mbak-mbak yang duduk di samping kanan saya._.v. Barulah saat Ed nyanyiin Give Me Love saya bisa mengontrol diri. Fiuh. 

Source: teddysphotos
  • Galway Girl
Salah satu lagu favorit saya di album Divide. Mostly, karena suara instrument-nya yang mungkin terinspirasi dari musik Irish. Sepertinya sepanjang konser, cuman lagu ini yang saya rekam videonya paling niat. Soalnya ada titipan dari teman saya yang suka banget dengan lagu ini tapi tidak dapat hadir di konsernya Ed. Itupun hanya 30-an detik. Saya sebenarnya tidak begitu suka ngerekam video pas konser jadi di awal saya sudah bilang pada temen saya kalo rekamannya nggak bakalan panjang. Saya pengin beneran nikmatin konser penyanyi kesukaan saya dengan mata kepala saya sendiri hehe.
  • I See Fire
Ini nih waktunya buat para penggemar film The Hobbit untuk menunjukkan kemampuan mengingat lirik lagu OST filmnya. Dan golongan itu bukanlah saya karena saya jarang banget ngedengerin lagu ini. Seperti biasa, kalau saya tidak hafal lirik lagunya, saya cuman nyaut-nyautin beberapa kata pas bagian chorusnya wkwkwk.
  • Thinking Out Loud
Apalah arti konser Ed Sheeran tanpa lagu Thinking Out Loud yang juga jadi anthem buat acara nikahan orang-orang di seluruh dunia. Lagu pertama yang di-streaming lebih dari 500 juta kali di Spotify. Lagu yang banyak diputer di kafe, mall, dan di kosan saya waktu masih kuliah dulu. Nggak afdol kalo nggak bisa nyanyiin seluruh lirik lagu ini di konsernya Ed. Tentu saja penonton di GBK tidak mengecewakan sodara-sodara. Kompak banget kayak paduan suara 17-an. Bravo!

Source: teddysphotos
  • Photograph
Another one of Ed's hits songs! Nggak kaget kalau pas petikan nadanya di awal para penonton udah langsung teriak heboh dan nyanyiin lirik lagunya. Komplit. Dari awal sampai akhir. Sempet kebablasan nyanyi soalnya Ed tiba-tiba improvisasi dan nambahin adlib. Walopun begitu, tetep nggak hilang semangatnya sampai lagu bener-bener habis. Sukaakk.
  • Perfect
Sepertinya kepopuleran lagu Perfect juga lumayan tinggi di Indonesia karena Ed baru nyanyi lirik "I found the love-" penonton udah pada menggila, "AAAAAAAA!!!!!!".  Lagu yang juga sering dikenal dengan Thinking Out Loud 2.0 ini liriknya memang romantis dan sangat cocok buat gombalin gebetan/pacar. Saya sebenernya B aja soalnya Kiss Me masih jadi jawaranya hehe. Ini opini saya saja, selera orang kan beda-beda. Tapi saya tetep ikutan nyanyi kok karena 1) hafal liriknya 2) ini konser 3) kalo hafal liriknya, haram hukumnya tidak ikutan nyanyi pas konser hahaha.
  • Nancy Mulligan
Satu lagi lagu yang terinspirasi dari musik tradisional Irlandia. Selain itu, Nancy Mulligan juga terinspirasi dari kisah cinta kakek dan neneknya Ed. Liriknya menurut saya susah dilupakan karena selalu terngiang di kepala saya. Tapi, karena intonasinya yang lumayan cepet, saya maklum kalau suara penonton ga begitu kompak dan volumenya juga rendah. Bisa dipastikan nafas bakalan tersengal-sengal macam kek ngikutin rap Eraser walopun level kesulitannya belum separah itu.

Source: teddysphotos
  • Sing
Nyanyiin lagu ini dari awal sampai akhir itu beneran perlu effort. Lagi-lagi Ed masukin lirik rap yang speed-nya sepertinya tidak bisa diikuti kalo bukan orang native England atau yang bener-bener jago bahasa Inggris. Ed sendiri juga kayaknya tahu kalo nggak banyak penonton yang bisa nyanyiin Sing. Jadinya, penonton cuman disuruh buat teriak "Oooooo Oooooo" hahaha.
  • Shape of You
Sudah mulai memasuki penghujung konser jika Shape of You dimainkan. Selain itu, Ed juga mengganti kaos hitamnya jadi kaos yang ada gambar Garuda alias lambang negara kebanggaan negara ini. Pas Shape of You tuh rasanya pengin berdiri trus joget. Tapi ya gimana di barisan depan, belakang, sekitar saya nggak ada yang berdiri! Saya jadi nyesel kenapa tidak membeli tiket yang standing. Beneran saat itu dalam benak saya cuman "ya Allah mau joget kek yang di tengah lapangaaannn."
  • You Need Me, I Don't Need You
Aaahhh the last song dan saya cuman hafal bagian "you need me man I don't need you". Dan Ed juga nyuruh nyanyinya bagian itu doang wkwkwk. Waktu seperti cepat berlalu kalau lagi beneran nikmatin momen. Rasanya gamau nerima kenyataan kalau konser Ed sudah berakhir. Ditambah lagi permainan gitarnya yang gila dan dia juga beatbox pas perform lagu ini! An incredible and talented singer, indeed.

Source: teddysphotos
WHAT AN UNFORGETTABLE EXPERIENCE

Sumpah, saya seneng banget bisa menjadi salah satu saksi kehebatan penampilan Ed Sheeran pertama kali di Indonesia. My money was worth it. Pengalaman konser pertama yang bakalan saya kenang selalu. Meskipun ada drama tiket masuknya sempet ga kebaca dan tiap masuk gate harus cek server dulu (gatau ya itu masalah promotor dan pihak yang bertanggungjawab), memori saya tentang konser ini lebih banyak positifnya.

One thing for sure, Ed Sheeran itu gila banget, gaes. Asliiiiiiii. Berani-beraninya konser cuman modal pake kaos, jeans, gitar, mic, dan alat yang dia pake buat bikin musik di atas panggung (saya nggak tahu namanya apa, pokoknya kaki Ed sering mainin nih alat biar ngasilin suara instrument yang mirip kayak pas recording). Suaranya pas live memang bener-bener bikin eargasm. Keren banget. Pokoknya kalo suka Ed Sheeran dan kebetulan punya duit buat nonton konsernya, tonton aja.

Printilan sehabis konser
Lastly, thank you Ed Sheeran for adding Jakarta as the last stop for your Divide Tour 2019 in Asia. Thank you for bringing One Ok Rock as your opening act. THANK YOU SO MUCH.

NB:
- semua foto diambil dari akun Instagram official Ed Sheeran dan One Ok Rock kecuali foto printilan barang konser karena itu milik saya
- ini setlistnya seinget saya sambil nyari referensi di Google, kalo ada yang kurang, mohon dimaklumi ya
- mohon maaf kepada teman-teman yang telah lama menunggu postingan ini karena it took me this long to write this post
- terima kasih kak Agnes yang telah menjadi teman nonton konser saya, mohon maaf kalo video-video yang kakak rekam banyak dipenuhi suara cempreng saya, hehe.

Share:
Read More
, ,

Movie Review: Parasite

Akhirnya saya kembali lagi menulis di blog ini. Setelah rencana mau posting review Avengers: Endgame nggak jadi karena bingung mau nulis apa, ujung-ujungnya malah nggak dilanjutin sama sekali ahaha *ketawa miris* 

Nah, berhubung kali ini lagi niat dan mumpung bisa, so here I am hehe. Kali ini saya mau review film Parasite atau dalam bahasa Korea dikenal sebagai Gisaengchung. Film ini disutradarai oleh Bong Joonho dan berhasil membawa pulang penghargaan paling bergengsi Palme d'Or di Cannes Film Festival 2019. Sebenarnya, karena penghargaan itulah saya tertarik buat nonton film ini. Untung aja diputerin di Indonesia dan saya sempat menjadi salah penontonnya. Okay, tanpa banyak basa-basi lagi, here we go.

Sumber: Wikimedia Commons
Parasite menceritakan tentang keluarga Ki Kitaek (Song Kangho) yang hidup dalam di basement. Cerita dimulai dengan putra Kitaek, Kiwoo (Choi Wooshik) mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai pengajar les bahasa Inggris anak orang kaya dari temannya, Min (Park Seojoon). Kiwoo kemudian datang ke rumah keluarga Park yang anak perempuannya akan ia ajari. Ia pun kemudian diwawancarai oleh Ibu Park dan akhirnya berhasil diterima sebagai guru les.

Saat melihat lukisan anak laki-laki Ibu Park, laki-laki ini pun mengarang cerita kalau ada kenalannya yang bisa mengembangkan bakat seni si anak. Ibu Park yang percaya dengan bualan Kiwoo pun mengikuti saran laki-laki ini. Tak disangka, ternyata yang muncul adalah adiknya Kiwoo sendiri yang berpura-pura sebagai sarjana seni lulusan universitas dari Amerika Serikat. Lama-kelamaan, seluruh anggota keluarga Ki Kitaek pun bekerja untuk keluarga Park. Konflik akhirnya muncul ketika mantan pembantu rumah tangga keluarga Park datang dan meminta masuk ke rumah besar ini. Apa yang terjadi? Tonton aja di bioskop ya mumpung sedang tayang hahaha.

Sumber: Wikimedia Commons
Saya berusaha mencoba tidak memasang ekspektasi apa-apa untuk film ini mengingat penghargaan yang didapatkan Bong Joonho. Oh iya, Bong Joonho adalah sutradara pertama dari Korea Selatan yang menerima penghargaan Palme d'Or, lho. Saya tahu kalau saya pasang ekspektasi terlalu tinggi, saya tidak akan menikmati filmnya dengan setulus hati. Saya ingin menilai filmnya apa adanya. Dan menurut saya, ide awal film ini memang menarik karena mengangkat tema tentang social class gap, antara yang miskin dan yang kaya. 

Selain itu, dialog beserta alur film Parasite menurut saya juga bagus walaupun terkesan slow-built. Bagi beberapa orang mungkin akan merasa bosan tapi saya sih nggak soalnya penasaran "bakalan di apain nih? eh kok? lhooo???" kayak gitu dalam hati. Karena saya hell-bent banget nggak mau nyari sinopsis atau spoiler dari film Parasite, saya jadi lumayan kaget ketika ada adegan gore yang disajikan di dalam film ini. Soalnya saya kira film ini akan dipenuhi adegan menyentuhkan dan bakalan bikin mewek, eh ternyata saya salah besar. Makanya, setelah nonton film Parasite saya masih memproses film ini. 

Kekurangan film ini, kayaknya so far saya belum menemukan. Ending-nya menurut saya juga acceptable. Apakah saya merekomendasikan film ini untuk ditonton? Iya. Berapa ratingnya? Kalau saya ngasihnya 8.5/9. Originalitas ide filmnya itu yang masih bikin saya kagum.

Okay, sekian review film Parasite dari saya. Semoga bisa berjumpa dengan postingan saya selanjutnya, ya!~ 

Fun fact: Bong Joonho walaupun bekerja di industri film, ternyata adalah lulusan jurusan Sosiologi dari Yonsei University. Pantes aja bisa ngangkat tema film dari isu sosial! Tapi, ya tetep, cara sutradara ini menyampaikannya dalam media visual memang keren!
Share:
Read More
, , , ,

Movie Review: Captain Marvel

Hey hey hey, akhirnya saya punya niat lagi untuk nulis di blog ini. I don't know why writing has been hard for me to do lately. I feel like I'm burning out of creativity to form coherent sentences? And for that reason, I apologize in advance if my sentences would be all over the place.

P.S : As usual, this review is purely based on my reaction after watching Captain Marvel as an audience. Take it with a grain of salt.

Sumber: Marvel
The long-awaited superhero that will help the Avengers to beat Thanos is finally here, Captain Marvel. This movie is obviously talking about Captain Marvel a.k.a Carol Danvers origin story to answer questions such as who is she, what kind of superpower she has, how does she become a superhero, etc. If you watch Infinity War Part 1 and wondering how Nick Fury meet Captain Marvel, your question will be answered in this movie (and how he communicate with her using a pager that could send a signal to other galaxy). 

First off, I would like to rant a little bit (maybe). I was pissed because of men's reaction after watching the first trailer of Captain Marvel. They were being too harsh on Brie Larson (the one who played Captain Marvel) just because she's very outspoken regarding women matters. Their hate is ridiculous such as she wasn't passionate enough to play a superhero character, never smile, no emotion etc and comparing her to Wonder Woman's Gal Gadot. The hate bandwagon is real to the point that they wrote biased review about how bad Captain Marvel was when the movie finally released. 

I understand that the standard for female superhero movies are high after Wonder Woman, but they didn't need to be completely dicks about it. I didn't see this so much hate when Marvel or DC release their male superhero movies. Are some of y'all, men, really feel threatened over women playing female superheroes character? Jfc. Take a goddamn chill pill, will you?

I'm glad I didn't give a single flying f*ck for those reviews. Believe me, Captain Marvel is not actually that bad. I think it's quite decent and I enjoyed it despite the slow-paced plot (some scenes might be a bit boring, though). I like Captain Marvel's vulnerability when she couln't quite grasp of her power and feelings. In the first minutes of the movie, she was being forced to repress her feelings to be a fully Kree warior. As the story went, she learnt that feelings could be a source of power too and her past was what make her the person she is today. 

Another good thing about this movie is, Marvel debunk the stereotype that it is impossible to have a platonic relationship between a woman and a man. Fury and Carol's friendship is solely based on mutual respect and how comfortable they are with each other without romantic feelings involved. This type of relationship should be normalized, tbh. 

All in all, Captain Marvel is an important movie for girls who want to see women being represented in superheroes universe as main characters not the usual sidekicks. It is really fulfilling to see little girls dressing as Captain Marvel in the premiere. To know that those girls know their own value, that they don't need men's validation to become who they really are. This is how pop culture should be developing into, more diversity and representation. I'm happy that I can witness in my life.

I think that's all I wanna say. I'm excited for Captain Marvel's role in Avengers: Endgame (and of course I'm gonna write the review too). See you on the next post!!!
Share:
Read More
,

Comic Review: Scrambled Vol 1 - Vol 2 (Indonesian Comic)

Hello semuanya!!! Sudah lama tidak posting di blog ini karena sibuk di kehidupan nyata hahaha. Setiap mau posting ujung-ujungnya cuman wacana saja~ 

Nah, kali ini saya mau nge-review komik dari Indonesia nih. Jujur saja, ini komik Indonesia pertama yang saya beli soalnya saya lebih suka baca komik dari Jepang. Saya tahu komik Scrambled dari Instagram sih. Itu aja secara nggak sengaja. Berawal dari hobi saya yang suka browsing fanart di media sosial, apalagi Twitter dan Instagram (setelah Tumblr diblok di sini -__- tahu sih pake VPN bisa, tapi males soalnya load-nya tambah lamaaaa) tiba-tiba di explore saya keluar postingan dari @lintankleen dengan gambar karakter komik buatan dia dan saya langsung jatuh cinta!!! Saya pun mulai backtrack postingan mbak Lintang ini dan nge-spam notifikasinya dengan puluhan like saya hehe. Saya jadi tahu kalau gambar-gambar karakter itu ternyata sudah ada dalam bentuk fisik alias komik yang sudah terbit dan bisa dibeli di Gramedia. Karena saat itu saya masih kuliah dan belum memiliki penghasilan sendiri, akhirnya saya pendam tuh keinginan buat beli komik Scrambled hiks.

Singkat cerita, setelah alhamdulillah lulus kuliah dan dapat kerja, tanggal 3 November lalu saya pergi ke Gramedia Pusat Kota Solo dan membeli Scrambled Vol 1 dan Vol 2 sekaligus hahaha (niatnya pengen ngeborong tapi masih kurang satu komik yang edisi Filan hiks) Kurang lebih satu minggu kemudian akhirnya saya selesai membaca dua volume Scrambled dan bisa menuliskan review-nya di sini.

Judul: Scrambled
Penerbit: M&C Gramedia
Jumlah halaman : +/- 200 halaman

Scrambled bercerita tentang seorang remaja laki-laki bernama Filan yang ingin membentuk sebuah band di sekolah barunya, SMA Pramudya Wiksa. Di sekolah baru ini ternyata Filan bertemu dengan sepupu yang sudah lama tidak dia jumpai, Visi. Filan pun tidak menyiak-nyiakan kesempatan dan langsung menanyakan kepada Visi siapa saja anak-anak di SMA Pramudya Wiksa yang bisa main musik. Sayangnya, Visi tidak sepenuhnya bisa membantu Filan karena mereka juga baru masuk tahun pelajaran baru dan masih kelas satu, jadi belum kenal dengan anak-anak lainnya. Tapi, setelah Filan mulai bergaul dan kenal dengan anak-anak di sekolah ini, dia bertemu dengan calon-calon member band, seperti Valent yang udah populer dan menjadi idaman anak se-angkatan, Axel yang diam-diam ternyata bisa main musik, Hosea yang sebenarnya kakak kelas tapi bisa nimbrung dengan adek kelas, dan tokoh-tokoh lainnya.


Karena Scrambled alur ceritanya masih ditahap awal pembentukan band, saya pikir wajar kalau konfliknya memang belum begitu kerasa. Apalagi komik ini baru ada dua volume, pasti perlu waktu agar plot bisa terbangun dan memunculkan konflik yang nantinya dapat mempengaruhi perkembangan karakter-karakter Scrambled. Di Vol 1, pengenalan tokoh dan backstory-nya masih fokus sama Filan, si karakter utama. Untungnya saja di Vol 2 mbak Lintang mulai memberikan ruang untuk karakter Valent, Axel, dan Visi untuk dapat dikenal lebih jauh oleh pembaca.

Saya berharap Mbak Lintang di volume selanjutnya akan menampilkan momen-momen di mana karakter-karakter Scrambled menunjukkan sisi lemah mereka. Ketidaksempurnaan karakter akan membuat pembaca merasa lebih relate, yang nantinya akan memperkuat koneksi pembaca dengan karakter tersebut (semacam attachment). Kalau koneksi tersebut sudah terbentuk, pembaca pasti akan selalu menanti-nanti bagaimana kelanjutan cerita komik Scrambled.


Nah, untuk gambarnya sendiri sepertinya saya tidak menemukan kekurangan hehe. Saya percaya bahwa tiap komikus memiliki gaya menggambarnya masing-masing, jadi saya tidak mau membandingkan gambar komikus yang satu dengan lainnya. Lagian kalau saya nggak cocok dengan style gambar komik Scrambled, saya tidak akan membelinya :))

Overall, saya suka dengan Scrambled dan tidak sabar untuk menanti kehadiran Vol 3!!!! Saya juga penasaran kapan karakter Altan akan keluar biar kegilaan anak-anak ini bisa dikondisikan hahaha. See you in a next time~

Scrambled Vol 1's rate: 3.8/5
Scrambled Vol 2's rate: 4/5
Share:
Read More
, ,

Suka Duka Mengikuti Survival Show Kpop : Produce 101 Edition

Produce 101 adalah survival show yang diusung oleh salah satu tv kabel dari Korea Selatan, Mnet. Acara ini bertujuan untuk menjaring pemuda pemudi Korea yang memiliki talent menyanyi, menari, dan rap, yang kemudian akan dipilih oleh publik untuk menjadi anggota member idol girl group atau boy group. Istilahnya sih idol group versi demokrasi karena yang menentukan semuanya adalah masyarakat Korea Selatan sendiri. Ada sistem pengambilan suara macam pemilu gitu lah. Bedanya, kalau pemenang pemilu bisa ditentuin dalam satu ronde, di Produce 101 hal tersebut sulit untuk dilakukan karena ada 3 tahap eliminasi di acara ini. Dari 101 peserta, dalam eliminasi pertama hanya akan diambil 60 trainee (sebutan untuk peserta karena dasarnya mereka di acara ini itu ditraining) dan kemudian ditahap eliminasi kedua, hanya diambil 35 trainee. Untuk tahap eliminasi terakhir, 11 trainee yang memiliki jumlah suara tertinggi kemudian akan didebutkan sebagai idol grup. Sebagai salah satu audience yang mengikuti acara ini dari season 1, banyak yang saya rasakan selama menonton Produce 101. 

"alah cuman acara survival idol kok bisa sampai investasi perasaan segala"

Begitulah mungkin yang sebagian besar orang kemukakan setiap saya bercerita kalau acara ini made me feel things. Okay, saya akan menjelaskan perasaan apa saja yang saya rasakan dengan harapan bahwa orang-orang berhenti memberikan pernyataan yang tidak perlu seperti contoh di atas.

Sumber : imdb.com


Kebahagiaan yang saya rasakan tentunya saat melihat trainee pilihan saya bisa debut. Ya walopun saya tidak ikut memberikan suara karena saya adalah penggemar internasional tapi hal tersebut tidak mengurangi kebahagiaan saya. Sebegitu pentingnya kah kata debut ini? Bagi saya dan tentu trainee pilihan saya, debut merupakan sebuah pencapaian dan sebuah awal untuk segalanya. Bertahun-tahun jadi trainee, bertahun-tahun latihan menari, menyanyi dan rap, bertahun-tahun bersabar dan terus menguatkan diri bahwa impian untuk menjadi member idol grup itu bakalan datang bukanlah hal yang mudah. Seperti setiap orang yang ingin mewujudkan mimpinya, para trainee ini juga sudah mengorbankan waktu, uang bahkan pendidikan. 

Sumber : wikipedia.org

Seperti acara tv pada umumnya, tentunya Produce 101 tidak lepas dari drama. Drama yang disajikan merupakan hasil editing yang dilakukan oleh Mnet. Editing yang dilakukan Mnet bertujuan untuk menggiring opini. Tak sedikit postingan dari antis (sebutan bagi seorang hater) yang mencoba untuk menjatuhkan trainee tertentu,yang menjadi korban editing Mnet, meraja lela di portal-portal web Korea Selatan, khususnya di Pann. Efek yang ditimbulkan pun juga ga main-main. Semua tahu kalo pekerjaan di dunia entertainment itu bergantung pada image, tak terkecuali dunia entertainment Korea Selatan. Postingan dari antis akan mempengaruhi image yang dibangun oleh trainee yang juga akan mempengaruhi perolehan suara dia setiap tahap eliminasi. Tak sedikit trainee yang tereliminasi karena hal ini walaupun mereka memiliki talenta menyanyi, menari atau rap yang mumpuni.  It's really sad to see someone who has to face his/her dream crushed by things s/he cannot control. Dunia  memang kejam, lads. 

Sumber : wikipedia.org

Begitulah suka duka yang saya rasakan ketika menonton Produce 101. Tapi, saya juga nggak kapok sih nonton survival show ini. Kadang saya pengen melihat acara ini itu sebagai reminder kalo saya harus terus bekerja keras. Nggak boleh setengah-setengah mengejar mimpi saya. Memang akan selalu ada pro-kontra, tapi bagi saya itu tergantung pada individu masing-masing mau melihat hal itu dari sisi mana. Oh iya bagi yang penasaran, Produce 101 Season 3 sedang tayang sekarang. Bedanya dengan season sebelumnya, Produce 101 Season 3 ini bekerja sama dengan pihak AKB48 jadi trainee-nya tidak hanya dari Korsel tetapi juga dari Jepang. Happy watching~
Share:
Read More
, , ,

Rekomendasi Youtube Beauty Channel Untuk Pemula


Bagi kaum hawa, merawat diri terutama wajah adalah sebuah keharusan. Memiliki wajah yang mulus, bercahaya, dan bersih dari jerawat merupakan impian yang selalu diidam-idamkan. Berbagai rangkaian skincare dan makeup pun sudah marak di pasaran. Meskipun begitu, tidak semua perempuan tahu bagaimana menggunakan skincare dan makeup yang benar. Saya dulu adalah salah satu yang termasuk dalam kelompok tersebut. Boro-boro mau pakai skincare dan makeup, orang pakai body lotion saja kalau pas saya ingat. Ya karena saat itu saya pikir kondisi wajah saya baik-baik saja dan saya tidak mau ribet. Hingga akhirnya menjelang tahun terakhir di kelas 3 SMA, jerawat mulai bermunculan dan saya mulai sadar betapa pentingnya merawat wajah. YouTube merupakan salah satu media yang mempermudahkan saya untuk belajar tentang skincare dan makeup. Berikut beauty channel yang menurut saya wajib untuk ditonton bagi pemula yang ingin mengenal skincare dan makeup :

1. Female Daily Network


Female Daily merupakan salah satu pioneer channel kecantikan di Indonesia yang memperkenalkan tentang produk-produk skincare dan makeup. Banyak konten-konten bermanfaat yang sering dibahas di channel ini seperti; skincare 101 yang membahas skincare dari A - Z, rekomendasi skincare dan makeup baik dari lokal maupun internasional, FD Swatch Sisters yang berisi tentang mbak-mbak Female Daily ngeswatch lipstick, dan ada juga sesi FD Girls bagi para remaja yang sudah mulai melek skincare dan makeup.

2. Suhay Salim

Channel milik mbak Suhay ini adalah channel yang videonya tidak pernah sekalipun tidak saya tonton. Hukumnya pokoknya wajib lah kalo mbak Suhay udah post video baru harus segera ditonton. Awalnya mbak Suhay ini cuman bahas tentang makeup khususnya makeup mata. Tapi sekitaran 2 tahun terakhir mbak Suhay udah merambah dunia per-skincare-an. Banyak video-video dia yang menjelaskan tentang penggunaan produk skincare untuk masalah tertentu seperti; beruntusan, kulit kusam, jerawat dsb. Pertama-tamanya pembawaan mbak Suhay di videonya ini serius banget tapi lama-kelamaan kocaknya keluar. Setiap nonton pasti ada saja yang diketawain. Ilmu skincare dan makeup dapet, hiburannya juga dapet hehe.

3. Tati

Dari channel lokal, saya pindah ke channel internasional, mbak Tati. Saya tahu channel mbak Tati dari mbak Suhay. Mbak Tati ini lebih fokus ke makeup. Dari mulai primer, foundation, concealer, mascara, eyeliner, bronzer, blush, highlighter, sampai lipstick dari berbagai brand (mainly US-based) dia komplit. Review dia menurut saya juga jujur. Mbak Tati ini juga sering posting video, seminggu bisa dua (tiga kali?). Nggak pernah kehabisan tontonan mah kalo sama mbak Tati.

4.  Liah Yoo

Jika mbak Tati jagonya bahas makeup, nah mbak Liah Yoo ini jago bahas skincare. Dia sering posting video yang isinya membahas tentang kandungan produk skincare dan kegunaannya. Misalnya: AHA, BHA, Vitamin C, Essential Oils, Centella dll. Penjelasan dari mbak Liah Yoo ini boleh dibilang cukup dalam karena dia nggak ngebahas dari surface-nya, tapi sampai akarnya juga. Mbak Liah Yoo juga sering kasih tips bagaimana menggunakan suatu produk skincare dengan benar karena ada beberapa produk skincare yang bila digunakan bersamaan bisa menyebabkan iritasi.

Nah, itulah rekomendasi beauty channel dari saya. Semoga postingan ini dapat membantu para perempuan yang ingin belajar tentang skincare dan makeup. Memang sih awalnya kelihatan ribet, tapi kalau udah ketemu produk yang cocok buat kulit wajah itu rasanya kayak udah ketemu soulmate ;) Sampai jumpa di postingan selanjutnya~

Share:
Read More
, , , , ,

Avengers Infinity War: A Short Review


Yes, you read that right lads. It’s still on Part 1. Don’t sigh because Infinity War has its sequel that will be released – according to Marvel’s cinematic universe project timeline- next year in May. Be happy because you get to see team Avengers kicking ass again. Without further ado, here are my thoughts on Infinity War Part 1.

Disclaimer: I am not a professional movie reviewer nor a Marvel fan. My thoughts are purely based on my reaction after watching the movie as an audience.

source : Marvel
First off, before you watch this movie I would like to suggest you to read or watch The Avengers, Avengers: Age of Ultron, Captain America: Civil War, Guardians of the Galaxy Part 1 and 2, Thor: Ragnarok and Black Panther. Or if you have a friend who is an avid fan of Marvel, go ask her/him to break it down in a simple explanation. But, if you’re lazy then good luck to you because you will have so many questions after watching IW Part 1.


Infinity War (IW) Part 1 generally is a movie where team Avengers (it is unfortunate that Hawkeye and Ant-Man aren’t included) have to fight with a new enemy, Thanos, who wants to seek the power of 6 infinity stones in order to control the balance of the universe. In this case is the mass population in each planet. Inevitably, team Avengers have to gather all their resources in order to stop Thanos. Who’s gonna win?

If I have to describe my reaction after watching IW Part 1 it would probably be like this “a very ambitious crossover movie that is surprisingly enjoyable (and will leave you in distress if you put too much emotion into it).” With so many casts and its big plot, it is very understandable that IW Part 1 has more than 2 hours of duration. What did IW Part 1 make so enjoyable for me that I was willing to sit more than 2 hours long? Action scenes? It could be. Thor’s new hair cut? Steve Rogers’ beard? Maaayybeee. But that’s not why this movie left a deep impression in me. Unexpectedly, the reason was Thanos. As a villain character, Thanos in IW Part 1 was well-described. Marvel did a good job in presenting Thanos’ past, his feelings for his daughter and his perspective regarding the balance of the universe in the movie. I, as an audience, could understand his reasons of why he did what he did to the point it was very relatable and made me sympathetic. I usually only see a villain character that do evil things just for the sake of her/his own selfishness without having much thoughts on why s/he does those kind of things. It was refreshing to see that a villain character finally has the chance to shine and is admired by audience because of the way s/he see things. The same pattern also happened in Marvel’s previous release, Black Panther, in portraying Killmonger as a villain character. If Marvel keeps stepping up their game like this, I don’t mind to spend my money to watch all their releases.

Well, I think that’s all I want to say regarding Infinity War Part 1. Based on my opinion above, it is very expected that I can’t wait for Infinity War Part 2 to release next year. I want to see how the ending is gonna be. Dear Marvel, don’t make me take back my words.




Share:
Read More